Upacara Adat Lombok Bau Nyale

Upacara Adat Lombok Bau Nyale

pin up

Berbagai daerah di Indonesia memiliki sejuta pesona, tidak hanya bentang alamnya, tapi juga keunikan adat dan tradisinya pun bikin terkesan. Lombok tentu menjadi salah satu daerah yang memiliki pesona itu.

Akan sangat beruntung jika ketika Anda berkunjung ke Lombok, bertepatan juga dengan perayaan upacara adat suku Sasak yang merupakan suku asli Lombok. Terdapat beberapa upacara adat yang biasa dilakukan guna melestarikan kebudayaan dan sekaligus menarik minat wisatawan untuk datang ke Lombok.

Upacara adat Suku Sasak yang masih dijaga sampai saat ini adalah Tradisi Bau Nyale. Nama tradisi ini berasal dari bahasa Sasak, terdiri dari kata “Bau” yang berarti menangkap dan “Nyale” yang berarti cacing laut. Jadi bisa diartikan Bau Nyale adalah tradisi menangkap cacing-cacing laut.

Tradisi Suku Sasak Lombok ini biasa dilakukan oleh penduduk suku asli Lombok pada hari ke 19 dan 20, bulan 10 dan 11 dalam penanggalan suku asli Sasak Lombok, atau sekitar bulan Februari dan bulan Maret pada kalender Masehi. Diselenggarakan di pantai di Kawasan Mandalika, tradisi ini telah dilakukan turun temurun oleh masyarakat Lombok, sejak sebelum 16 abad silam.

Kebudayaan Khas Lombok ini diselenggarakan setelah sebelumnya dilakukan Sangkep Wariga, di mana para tokoh adat berkumpul untuk menentukan hari baik diselenggarakannya Bau Nyale. Setelah itu dilanjut dengan Mepasoan, yaitu pembacaan lontar. Setelahnya, digelar upacara adat bernama Nede Rahayu Ayuning Jagad, di mana para tetua Adat Lombok berkumpul dengan posisi melingkar, serta terdapat gunungan buah dan jajanan yang diletakkan di tengah.

Bau Nyale, tradisi yang memiliki nilai sakral bagi suku Sasak. Bicara tentang Bau Nyale, tentu erat kaitannya dan cerita yang melegenda. Masyarakat Lombok meyakini bahwa cacing laut yang muncul setiap tradisi Bau Nyale merupakan jelmaan Putri Mandalika yang berparas cantik dan memiliki budi pekerti yang baik.

Putri Mandalika adalah putri dari pasangan Raja Tonjang Beru dan Dewi Seranting. Kecantikannya tersebar hingga ke seluruh Lombok, sehingga para pangeran dari berbagai kerajaan berniat dan berebut untuk mempersuntingnya. Mengetahui hal tersebut ternyata membuat sang putri menjadi gusar, karena jika dia memilih satu di antara mereka maka akan terjadi perpecahan dan pertempuran di Bumi Sasak.

Alhasil sang putri memutuskan untuk mengundang seluruh pangeran beserta rakyat mereka untuk bertemu di Pantai Kuta Lombok pada tanggal 20 bulan ke 10 menurut perhitungan bulan Sasak tepatnya sebelum waktu Subuh. Untuk menjaga kerukunan, alih-alih memilih salah satu pangeran, Putri Mandalika memutuskan terjun ke laut. Seluruh rakyat yang mencari tak kunjung menemukannya. Usai beberapa saat, akhirnya datanglah sekumpulan cacing berwarba-warni yang sampai saat ini diyakini sebagai jelmaan Putri Mandalika

Setiap tahunnya pada pagi hari menjelang subuh di tanggal yang sama, masyarakat Lombok akan menyambut meriah acara ini. Berbondong-bondong datang ke pantai untuk menangkap cacing berwarna-warni. Mereka yang memburu cacing laut dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa, laki-laki maupun perempuan. Agenda tahunan yang dinantikan untuk bertemu Putri Mandalika, juga sebagai bentuk ritual penghormatan.

Tradisi Bau Nyale adalah bagian dari tradisi masyarakat agraris masyarakat Pulau Lombok. Cacing yang berhasil ditangkap dianggap sebagai berkah. Sebagian hasil akan dikonsumsi agar kehidupan sejahtera, dan sebagian lagi ditaburkan ke sawah agar tanahnya subur dan memberikan hasil yang melimpah. Banyak tidaknya Nyale yang muncul setiap tahun, juga diyakini sebagai pertanda banyak tidaknya hasil panen para petani.

Menikmati Pesona Mandalika

Selain daya tarik Festival Bau Nyale, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga terdapat Sirkuit Mandalika. Sirkuit jalan raya pertama di dunia yang akan menjadi tempat ajang MotoGP 2021. Masuk dalam Destinasi Super Prioritas, Mandalika memang wajib dikunjungi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *